Baca Novel Online: Tidur Bersama Hujan 1

Baca novel online

Sebuah kisah yang menyayat hati namun memiliki nilai filosofi yang bisa kamu temukan di situ baca novel online dalam sebuah novel paling terbaru untuk para pecinta dunia novel. Novel ini menceritakan tentang pengalaman seseorang perempuan yang rela menjadi gelandangan kota Singapura demi mencapai mimpinya menjadi wanita bisnis.

Bagi kamu yang ingin membaca bab sebelumnya silakan klik link ini yaitu Bab pertama Galau atau kamu bisa pergi ke daftar isi dari novel terbaru Tidur Bersama Hujan.

Baca novel online dari sebuah kisah nyata paling menyayat hati.

Baca novel online

Aku ingin berhenti sampai di sini tapi diriku tidak dapat menemui damai yang selama ini kucari. Aku ingin menghapuskan dia dari benakku, tapi bayangannya masih menerangi di setiap kegelapanku. 

Aku hendak meneruskan perjuangan cintaku tapi diriku tidak kuat lagi menahan rasa perih dari hatiku yang merintih.

Aku sadar keegoisanku selama ini. Aku hanya perduli apa yang aku mau namun tidak pernah memperdulikan yang dia inginkan. Jika aku terus memaksanya untuk kembali, artinya aku ini egois dan sudah lari jauh dari makna cinta yang hakiki, yakni boleh memahami orang yang dicintai dalam setiap keadaannya. 

Dia hendak pergi dari kehidupanku maka aku harus ikhlas atas pemergiannya. Biarlah diriku sedih meratapi pemergiannya karena aku percaya bahwa kesedihan adalah awal kebahagiaan dan kebahagiaan yang dapat aku rasakan sekarang adalah mampu mentafsir makna cinta yang sebenarnya, memahami dalam setiap keadaan insan yang kukasihi.

Setelah bergelut dengan berbagi perasaan yang tidak menyenangkan, akhirnya aku menghapus nomornya di-handpone, lalu aku tiadakan gambar kenangan kami bersama dulu sambil bercucuran air mata. Aku berjuang mati-matian untuk mengubur semua kenangan kami sehingga tidak satu pun yang tinggal melainkan seutas rantai perak pemberiannya yang selalu melingkar di leherku kemana pun aku pergi.

Aku juga tidak percaya yang aku baru sahajamelakukan semua ini dan aku juga hampir pasti yang aku boleh membebaskan batinku ini dari pedihnya seksaan tatkala aku mengingatinya. Semakin aku berusaha untuk menghapus segala kenangan itu, tapi bayangannya kian menerangi gerak-gerikku hingga aku lemas tenggelam. Ternyata aku salah, sesungguhnya tidak ada satu cara sekalipun untuk aku dapat melupakannya dan ternyata kenangan pahit itu akan berubah melewati waktu menjadi harta yang tidak ternilai.

Dia sudah menjadi sebagian dari masa laluku tapi sayangku untuknya tidak pernah setitik pun berkurang sementara cintaku untuknya memang hanya tinggal sebagian. Pengalaman ini sudah menjawab pertanyaanku mengenai perbedaan antara kedua-duanya. Sayang adalah perasaan tulus murni, sejati dan abadi, tumbuh mekar, berakar dan harum mewangi di hati. Sementara cinta hanya perasaan sementara yang dahsyat dan lebih cenderung kepada nafsu sehingga mereka yang sedang jatuh cinta tidak boleh berfikir dengan akal yang sehat.

Detik-detik yang harus aku lalui begitu sulit Satu hari kurasakan bagaikan begitu panjang dan melelahkan. Inilah masa yang paling tidak indah yang pernah berlabuh dalam kehidupanku dan aku tidak pasti bila semuanya akan pergi berlayar.

Aku percepatkan pelayarannya dengan melakukan hal-hal yang boleh membuatkan aku merasa hidup seperti mendansakan pena di atas kertas, menonton rancangan televisi kegemaranku dan bermain bulutangkis merupakan olahraga yang aku sukai. Aku lakukan semuanya berulang-ulang setiap hari dan bertekad untuk tidak lagi menoleh ke belakang sampai badai yang melandaku kini benar-benar berlalu karena cepat atau lambat ia pasti akan pergi diusir oleh waktu.

"Ketika kamu kehilangan seseorang yang begitu berarti untukmu maka setiap hari, buatlah sesuatu yang boleh membuatmu benar-benar merasa hidup."

Di kota metropolitan ini, aku tidak mempunyai sahabat. Jadi masa lapangku lebih banyak dihabiskan menyendiri di perpustakaan yang letaknya berhadapan dengan bangunan sekolahku di Jurong East.

Perpustakaan ini dibuka pada pukul 9.00 pagi dan tutup pada pukul 9.30 malam. Memiliki 5 tingkat; tingkat B1 yang letaknya di bawah tanah khusus ruangan anak-anak, tingkat satu untuk surat kabar dan majalah-majalah yang bersambungan dengan kantin.

Tingkat dua dan tiga untuk buku-buku pengetahuan umum yang bagian kiri dan kanannya dilengkapi dengan area belajar. Tingkat empat khusus untuk buku-buku bacaan remaja. Selalunya, aku akan berada di tingkat tiga kerana di sana ada meja dan kersi yang membuatku merasa tenang semasa mengulang kaji mata pelajaran kesukaanku atau hanya sekedar membaca novel bahasa Inggris bagi meningkatkan kemampuanku dalam berbahasa Inggris.

Sudah sepuluh jam aku berada di perpustakaan. Sejak pukul 10.00 pagi hingga jam dihanphone menunjukkan pukul 8.00 malam. Kedatanganku satu jam lebih awal setelah perpustakaan dibuka.

Aku memang sudah terbiasa tiba di perpustakaan diwaktu pagi, kadang kala aku datang lebih awal dari waktu ia dibuka karena jika datang agak lewat maka tidak akan ada lagi kersi dan meja yang kosong apatah lagi pada hari Sabtu maka sudah pasti dipenuhi oleh ramai pengunjung.

Perpustakaan akan ditutup 30 menit lagi, dan aku sedang bersiap-siap memulangkan buku-buku yang tadi kupinjam. Aku paling suka membaca buku akunting karena itu adalah mata pelajaran kegemaranku dan bila aku bosan dengannya maka kuisi kebosanan tersebut dengan menatap keadaan
luar melalui kaca jendela. Ada banyak benda yang dapat aku nikmati dari jedela itu.

Seperti biasa, MRT dan bus adalah pengangkutan publik yang aku gunakan untuk kembali ke rumah yang terletak di Jurong West Blok 706. Lebih kurang 5 minit aku berada di dalam MRT yang akan melalui 2 stesen MRT untuk sampai di stesen MRT Boonlay yang letaknya bersebelahan dengan Terminal Bus Boonlay dan dari terminal bus aku perlu menunggu bus nomor 145 yang akan berhenti tepat di depan blok kediamanku.

Kini, aku sedang menaiki bus menuju ke rumah, mataku sudah melihat perhentian bus yang aku harus turun, maka aku segera menekan tombol berwarna kuning yang akan membunyikan suatu bunyi khas sebagai isyarat kepada pengemudi bus untuk menghentikan busnya.

baca novel online


Sebuah novel motivasi sebagai penyemangat jiwa dan pemantap hati kamu.


Pelbagai perasaan yang tidak menyenangkan sudah mula bertandang dalam hatiku. Gelisah, resah dan gundah yang kurasakan apabila hendak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada Kak Serin yang acap kali menyerang kedamaian hati tanpa sebarang peringatan. Beberapa langkah lagi, aku akan berdiri di depan pintu rumah dan perasaan yang tidak menyenangkan kian menerangi benakku dan kian mengganggu hatiku.

Malam ini merupakan hari kelahiranku. Pada malam yang baik ini, aku berharap Kak Serin dalam keadaan yang baik juga.

Tuk, tuk, tuk… Aku memang tidak memegang kunci rumah karena Kak Serin melarangku untuk memilikinya walaupun aku sudah berusaha memujuk hatinya namun dia masih berkeras untuk tidak membenarkan aku membawa kunci rumah apabila keluar. Semua ini disebabkan perubahan Kak Serin yang sampai sekarang aku masih belum pasti penyebab perubahannya.

Tuk, tuk, tuk… Kembali kuketuk pintu rumah dengan lebih bertenaga namun masih belum ada respon. Jantungku kian berdegup kencang karena aku takut kalau-kalau sesuatu yang tidak baik terjadi kepada Kak Serin.

Bell rumah dalam keadaan rusak sehingga aku harus mengetuk pintu dengan lebih bersemangat lagi, kuketuk berulang-ulang kali sehingga aku mula rasa lelah, namun pintu itu masih belum juga dibuka.

Mungkin, Kak Serin sedang berada di luar, aku hubungi handphonenya, namun masih tidak dihiraukan. Pengalaman sebegini memang sudah biasa aku alami, beginilah caranya untuk aku masuk ke dalam rumah. Aku harus menjerit senyaringnya dan mengetuk pintu sekuatnya dan setelah aku lelah dan cukup tersiksa baru pintu yang ada di hadapanku akan dibuka olehnya.

Malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Walaupun sudah kuperas otot tanganku ini dan kukerah kerongkonganku namun aku masih belum dapat masuk ke dalam rumah yang aku juga tak pasti sama ada Kak Serin ada di dalamnya atau tidak. Sudah hampir setengah jam aku berdiri di depan pintu dan kulihat jam dihandphone hampir menunjukkan pukul 11.00 malam.

Kali ini kuintip ke dalam rumah melalui bagian kecil jendela yang tidak tertutup oleh tirainya. Aku lihat lampu di ruang tamu menyala, bemakna Kak Serin ada di dalam karena sudah menjadi lumrah rumah-rumah di sini apabila penghuninya tiada pasti rumah dalam keadaan gelap, tujuannya untuk menghemat bil listrik yang dirasakan cukup mahal jika lampu-lampu rumah dibiarkan menyala sepanjang malam. Jika di kampung dulu, aku sudah terbiasa tidur dalam keadaan lampu menyala tapi di sini aku harus membiasakan diri untuk mematikan lampu kamarku sebelum menjinakkan tubuh di tempat tidur.

Aku sudah mulai kedinginan. Lagi-lagi di tingkat sepuluh, membuatkan udara yang sejuk menjadi lebih sejuk maka dengan tekad yang bulat kuketuk pintu rumah kuat-kuat dan selang beberapa minit tanpa berhenti melakukannya barulah kudengar bunyi seseorang membuka pintu dari dalam. Hatiku sedikit lega tapi belum sepenuhnya damai karena aku tahu sebentar lagi aku harus berhadapan dengan sifat ketidakwarasan Kak Serin.

Ketika aku melepaskan sepatu, tiba-tiba pintu itu kembali ditutup dan koper bajuku tergelatak di hadapanku. Aku tidak diberi kesempatan untuk mendengar penjelasannya. Sekarang, aku sudah tahu alasannya mengapa dia tidak mau aku memiliki kunci rumah karena dia sudah berencana untuk menghalauku sejak dulu lagi.

Aku tiada persiapan untuk diusir, padahal aku baru saja berusaha untuk mendamaikan hati dari badai cinta, namun sekarang datang lagi badai  dari arah yang berbeda. Cobaan ini terlalu berat untuk dipikul sendirian. Andai saja dia masih bersamaku sudah pasti aku takkan selemah ini, karena didampingi kekasih yang setia menemani dalam pelbagai kesulitan, akan memberikan tenaga dan kemampuan tambahan dalam menghadapi pelbagai masalah kehidupan.

Malam ini, aku terpaksa tidur di luar, bertemankan angin malam yang dingin atau mungkin bertemankan air hujan yang selalu datang bertandang waktu tengah malam. Sekarang musim hujan! Kuhayunkan kaki-kakiku dengan bersisakan sedikit semangat yang ada, semangat untuk menamatkan sekolah di sini dan suatu hari nanti aku akan menjadi wanita bisnis yang berjaya.

Hanya mimpi itu saja yang kini masih menyala dan membakar disetiap ketidakupayaanku. Baru aku sedari aku kuat kerananya. Ternyata mimpi mampu menjadikan kita seperti terumbu karang yang tetap berdiri kukuh walaupun diterjang ombak, diterpa badai dan terkena terikan matahari atau seperti matahari yang tidak pernah mengerang walaupun sudah jutaan tahun tanpa berhenti membakar tubuhnya demi menerangi bumi dan seantero maya.

Selagi mimpi masih bersemayam di hati, niscaya tiada keluhan semasa menjalani masa-masa sulit karena mimpi menyimpan berjuta harapan dan harapan adalah alasan mengapa kita ingin meneruskan kehidupan.

Kulihat jam dihandphone belum pukul 12.00 malam. Artinya masih ada bus yang boleh membawaku pergi jauh daripada kak Serin karena aku tak mau Kak Serin melihatku atau pun sebaliknya. Entahlah, aku merasa tidak nyaman ketika berada di sampingnya apalagi harus bersamanya.

Bus yang membawaku berhenti di Terminal Bas Boonlay, lalu kuteruskan perjalanan. Aku tidak tahu hendak ke mana, kaki ini membawa tubuh yang sedang merasakan keletihan luar biasa, bukan hanya fisikku saja yang letih namun juga batinku disiksa oleh pelbagai perasaan yang tidak mendamaikan.

Kini, aku duduk di taman mini yang kedudukannya di tengah-tengah antara Jurong Point Mall dengan Stasiun MRT Boonlay. Aku hanya ada dua pilihan yang mungkin boleh menyelamatkanku dari tidur bersama hujan.

Pilihan pertama menumpang tidur di rumah Kak Eli yang rumahnya boleh kutuju dengan berjalan kaki dan pilihan kedua aku boleh menginap di rumah Kak Eni yang kediamannya di Sembawang dan aku harus menggunakan MRT dengan menempuh lebih kurang 1 jam lebih perjalanan. Mungkin karena hubunganku dengan mereka tidak sebegitu baik dan Kak Serin juga penyebabnya. Lebih-lebih lagi permusuhan antara kedua-dua kakakku yang tak kunjung reda. Sudah agak lama tidak menghubungi mereka apalagi datang berkunjung, jadi tidak sesuai jika aku muncul tiba-tiba dengan keadaan hati dan jiwaku yang terbelunggu oleh masalah. Mungkin ini keadaan terdesak. Aku tidak ada pilihan melainkan memilih di antara mereka.

Akhirnya, selepas melalui pelbagai pertimbangan, aku memilih untuk meneruskan perjalanan ke rumah Kak Eli.

Pikiran-Pikiran buruk pun menyerang di benakku.

“Bersediakah Kak Eli membantuku setelah dia, suaminya dan ibu mertuanya menuduhku sekeluarga telah mengguna-gunakan mereka?”

“Sudah pasti Kak Eli akan menolongku karena aku adiknya, jadi mustahil dia sampai hati melihat adiknya sendiri menderita sementara dia bertanggungjawab menolongku.”

“Kak Eli mungkin tak akan sampai hati tapi bagaimana dengan suami dan ibu mertuanya? Apalagi kedatanganku tidak diundang dan tengah malam pula. Ah, peduli apa aku dengan semua itu. Aku harus mencobanya dulu, mungkin keadaan sudah berubah seiring berlalunya waktu.”

Dari Jurong Point Mall ke rumah Kak Eli, aku berjalan kaki sambil mengheret koper bajuku yang setinggi lutut. Berjalan kaki di kota dengan di desa suasananya sangat berbeda. Jika di kota, jalannya terasa lapang dan nyaman dengan pemandangan sekeliling merupakan bangunan-bangunan bertingkat yang tersusun rapi, jadi walaupun perjalanannya jauh tapi terasa dekat. Sementara di desa, dengan jalannya yang sempit dan kadang kala becek setelah hujan, kiri dan kanan jalan dipenuhi semak-semak dan belukar, jadi perjalanan yang jauh akan terasa meletihkan. Alasan itulah yang membuatku lebih suka berjalan kaki di kota Singapura.

Flat Kak Eli di tingkat 4, jadi tidak begitu mengerah tenaga jika menapak anak tangga. Untungnya rumah Kak Eli bersebelahan dengan tangga. Tapi malam ini aku terlalu lelah seperti tulang-tulang mahu tercabut dari sendinya.

Aku berjalan beberapa langkah menuju lift. Pintu lift sedang menganga, aku pun masuk sambil menekan nombor 4. Selang beberapa saat, pintu lift kembali menganga. Aku hanya mematungkan diri sambil membayangkan apa yang akan terjadi jika aku bertamu ke rumah orang pada waktu tengah malam dalam keadaanku yang bermasalah. Mungkin Kak Eli tidak merasa terganggu tapi bagaimana dengan suaminya? Kejadian kemarin sudah jelas dan terang bahwa kehadiranku sekeluarga tidak diinginkan dan bayangan-bayangan buruk itu sudah memuncak lalu menghalangku untuk keluar dari lift dan membiarkan pintu lift tertutup semula.

Tidak ada lagi pilihan melainkan tidur bersama hujan! Aku berharap malam ini hujan tidak datang
bertandang. Di sekitar blok perumahan Kak Eli, ada dua taman permainan yang berdekatan. Taman
permainan yang pertama kedudukannya paling dekat denganku. Suasananya agak gelap dan tidak ada tempat yang nyaman untuk dijadikan tempat tidur. Aku meninggalkannya lalu mendekati taman permainan yang kedua. Suasana di situ agak terang karena dikelilingi oleh bangunan-bangunan bertingkat dan ada seperti rumah-rumahan yang atapnya hanya melindungi separuh tubuhku. Di dalam rumah-rumahan inilah kisah tidur bersama hujan itu bermula.

baca novel online


Saat mata terbuka, ternyata mentari sudah menerangi alam. Tidurku malam tadi agak nyenyak mungkin karena aku terlalu lelah sehingga gangguan-gangguan tadi malam tidak mampu mengusik tidurku. Aku masih belum berani menemui Kak Eli dan masih memikirkan cara yang tepat untuk meminta belas kasihannya. Mungkin hanya dalam keadaan terdesak, aku akan menemuinya dan keadaanku kini masih belum melampaui batas itu.

Malam demi malam aku tidur di dalam rumah-rumahan di taman permainan itu. Menjelang Subuh, udara dinginnya seakan menusuk tulang. Malam ini, hujan gugur ke seluruh istanaku yang akhirnya menghentikan pelayaranku ke dunia mimpi. Terpaksa aku pindah ke tempat yang sudah kupersiapkan apabila datangnya hujan. Tempat ini dipanggil study corner yang letaknya berdekatan dengan taman permainan pertama yang aku tidak jadi menginap.

Study corner merupakan ruangan khusus yang tidak berdinding namun beratap dan dilengkapi dengan kursi-kursi dan meja-meja untuk belajar. Khusus dibina oleh HDB (Perusahaan perumahan Singapura) untuk memberi kemudahan kepada penduduk setempat.

Walaupun sudah kuambil beberapa helai pakaian untuk dijadikan selimut, namun tetap saja aku merasa kedinginan dan tempias air hujan sedikit membasahi tubuh ini. Aku semakin kedinginan, rasanya sudah tidak sanggup lagi tapi apa yang dapat aku buat melainkan harus bertahan sehingga munculnya mentari.

Tidak pernah kubayangkan jika hidupku sekarang seperti hidupnya seorang survivor. Aku bagaikan sedang bermain survivor. Aku memang surviving, tiada pilihan lain selain menjadi survivor.

Pengalaman tidurku bersama hujan sungguh berkesan sehingga tidak ada pengalaman-pengalaman yang lain seberkesan itu dan takkan ada satu pun yang dapat menggantikan kedudukannya di hatiku ini. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang paling berharga yang pernah kualami.

Rasanya seperti tiada sesiapa di dalam dada melainkan  yang Maha Pencipta. Setiap langkah dan gerakku, Dia selalu ada bersama. Dia yang Maha Adil, Maha Mengetahui dan Maha Mengerti. Dia tidak akan membiarkan aku menderita selamanya, apalagi dia tahu bahawa hamba-Nya ini tidak pernah menyerah kalah dan pasti sabar dalam menghadapi segala ujian hidup.

Tiba-tiba, handphone yang kuletak di dalam tas berdering, pertanda bahwa ada pesanan SMS yang masuk.

"Pukul berapa kita hendak berjumpa? Bagaimana kalau kita berjumpa di Stesen MRT Jurong East?"

Pesanan SMS dari lelaki yang kukenal melalui dunia maya. Aku melihatnya melalui foto dan belum pernah bertentang mata. Jam dihandphone menunjukan pukul 7.00 malam, dan kurang daripada 15 minit lagi, aku harus berada di Stasiun Jurong East tepat pada pukul 7.00 malam.

Kebetulan, aku sedang duduk di taman mini yang diapit oleh Jurong Point Mall dan Stasiun MRT Boonlay sambil menikmati nasi lemak yang kubeli di kedai makan yang ada di Stesen MRT Boonlay.

Satu-satunya, kedai makan yang menjual nasi lemak seharga $2. Dua bungkus nasi lemak sudah cukup untukku bertahan dalam sehari. Nasinya agak banyak, lauknya boleh dipilih antara daging ayam atau telur mata lembu dengan dua sosis. Untuk lebih hemat lagi maka, minumannya aku ambil air keran di toilet publik karena jika membelinya di kedai, aku harus mengeluarkan uang sekurang-kurangnya, $1 Singapura. Dengan cara inilah, aku dapat bertahan hidup sebagai perempuan gelandangan di kota Singapura.

Aku bersia-siap ke tempat yang dijanjikan untuk kami bertemu. Pada waktu sekarang, Stasiun MRT Boonlay sedang dibanjiri lautan manusia yang baru saja pulang dari tempat kerja. Aku harus berdesakan saat masuk ke dalam kereta listrik. Mata ini tidak melihat ada kursi yang kosong, jadi terpaksa berdiri sambil memandang keluar melalui jendela kacanya. Kereta ini akan melalui Stasiun MRT Lake Side dan Stasiunn MRT Chinese Garden, kira-kira 7 minit barulah tiba ke Jurang East.

Jurong East! Sambil mengheret koper pakaian menuju eskalator, kemudian aku akan turun di kaunter MRT. Di sini, segera kutempelkan kartu Ezlink pada salah satu pintu masuk yang akan terbuka sendiri setelah sistemya mengurangi nilai Ezlinkku. Pintu laluan itu merupakan pintu keluar stasiun sementara Ezlink adalah kartu yang digunakan untuk membuka pintu tersebut setelah ia mengurangi nilainya. Untuk mengisi semula nilainya, kita boleh pergi ke kaunter atau di mesin penambah nilai Ezlink. Kewujudannya pasti ada di setiap stasiun MRT, nilai minimum pengisiannya $10, sementara nilai maksimumnya $50.

Kuturuni tangga eskalator kedua untuk ke tingkat bawah. Stasiun MRT di Singapura memang bertingkat-tingkat. Stasiun MRT Jurong East saja terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama adalah tingkat bawah yang menempatkan toko-toko, tingkat kedua merupakan tempat kaunter dan mesin penambah nilai Ezlink dan juga merupakan gerbang keluar manakala landasan rel kereta berada di tingkat tiga. Bahkan beberapa stasiun MRT yang lain ada yang memiliki ruang di bawah tanah sebagai landasan rel keretanya, contohnya adalah Stasiunn MRT City Hall. Dengan kemudahan MRT, penduduk Singapura sudah boleh berbangga kepada dunia bahwa negara mereka merupakan negara maju dan mempunyai teknologi canggih.

Novel online yang wajib kamu baca sebagai renungan dan motivasi dalam menggapai mimpi.


Masyarakat Singapura terlalu obsesi mengenai kebersihan. Itu sesuatu yang sangat bagus, namun untuk orang sepertiku ia terkadang merimaskan. Waktu di kampung halamanku dulu, aku boleh membuang sampah sesuka hati, tapi di sini jika kita melakukannya akan mendapat hukuman yang setimpal tanpa rayuan sedikit pun. Kita juga tidak boleh merokok di sembarangan tempat. Ada tempat-tempat khusus untuk merokok, tidak seperti di kampung halamanku, boleh merokok di mana-mana bahkan di rumah sakit sekalipun.

Dulu, ketika aku baru tinggal di Singapura aku agak gerah dengan sikap pembersih di kedai-kedai makan di sini karena mereka kerap membersihkan meja yang sedang aku duduk. Aku pikir mereka seperti robot pembersih yang sudah diprogramkan secara automatis untuk menghilangkan noda-noda kecil seperti setitik saus atau kecap di meja atau di lantai ketika mereka menemuinya dan kadang-kadang kakiku juga turut dibersihkan.

Selain itu, sangat sukar menemui sampah di jalan walaupun hanya sepuntung rokok. Bukan sesuatu yang aneh jika bangunan-bangunan di sini bersih berkilau seperti baru saja dibina. Jadi, bukan hal yang berlebihan jika aku katakan bahwa mereka terlalu obsesi dalam memelihara kota.

Aku menunggu lelaki asing itu di depan toko buku Populer, toko buku yang paling terkenal di kota ini. Kedua-dua bola mataku sedang liar ke kiri dan ke kanan berusaha mencari seseorang yang ingin ditemui.

Mataku kini membidik seorang lelaki yang wajahnya seakan yang kulihat di foto dan ciri-cirinya juga sama seperti yang dia sebutkan di SMS barusan. Rambutnya hitam lebat agak panjang untuk seseorang lelaki, sangat padan dengan bentuk wajahnya yang bujur sirih. Matanya tidak terlalu besar, kurasa lebih besar daripada mataku dan aku boleh melihat otot-ototnya di balutan baju hitam, manakala kakinya yang panjang dibalut oleh skinny jean berwarna biru tua dan kedua-dua telapak kakinya beralaskan kasut berwarna kelabu yang ku tak pasti mereknya.

Wow! Dia tampak sempurna dan terlalu sempurna untuk gadis desa yang sekarang adalah perempuan gelandangan. Aku juga tak pasti bau tubuhku, dalam keadaan wangi atau sebaliknya karena sudah tiga hari aku tidak mandi dengan sempurna. Rambutku yang separas siku belum menyentuh air melainkan air hujan yang turun malam tadi. Aku rasa ingin lari sebelum dia menemuiku atau aku harus berpura-pura tidak mengenalinya jika dia menemuiku nanti.

Bagaimana aku boleh berkenalan dengan pemuda tampan yang kulitnya lebih cerah dan licin seperti porselin dibandingkan kulitku yang tampak kusam dan berdebu. Penampilannya juga lebih bersih sementara penampilanku benar-benar seorang gelandangan sejati dengan sebuah koper pakaian di sisi kiriku seperti seorang yang baru saja diusir dari rumah. Oh, tidak! Pertemuan ini sungguh memalukan tetapi aku sangat memerlukan seorang sahabat. Semoga dia dapat melihat daya tarikku dari sudut lain, tetapi aku tetap merasa rendah diri.

baca novel online


Oh, Tuhan! Rasanya, dia sudah menemuiku. Pandangan matanya sudah tidak liar, sekarang dia sedang menuju ke arahku berdiri. Segera kualihkan mataku ini ke arah yang berbeda, pura-pura kalau aku tidak memperhatikannya. Aku merasa dia sedang mendekatiku dan aku masih belum ada kekuatan untuk melihatnya. Degup jantung ini semakin tidak menentu dan ku tarik nafas panjang-panjang berusaha untuk tenang. Aku tidak boleh tenang jika berhadapan dengan seorang lelaki yang fiziknya seperti bintang filem Korea.

0 Response to "Baca Novel Online: Tidur Bersama Hujan 1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2